Jadi…entah untuk yang keberapa kali saya sudah menjatuhkan BB ungu kesayangan saya itu.
I’m usually taking a good care of my private stuff…because I’m so likely to form an emotional attachment with almost anything… living or non-living objects.
Teringat betapa susah saya membereskan kamar karena sayang rasanya harus membuang benda2 ‘tak berguna lagi’ seperti prakarya jaman SMU, kertas kado bekas kado ulang tahun saya dari orang2 tersayang, pulpen2 lucu yang sudah tak lagi bertinta, baju2 lama yang masih muat dibadan (padahal mah udah belel minta ampun dan bikin Ibu saya keningnya berkerut2 tiap menangkap basah saya pake baju model begituan), berkas2 file kuliah (entah fotokopian, laporan tugas2 yang udah diberi nilai, atau sekedar mind-map jaman baheula yang dulunya buat ngebantu di masa2 ujian), dan masih banyaaaaaak lagi deh ga bisa disebutin satu….hehehe…
Jadiii..selama semua benda2 itu menurut saya punya kisah istimewa, saya ga akan begitu aja bisa menyingkirkannya. Sebenernya ini ga bagus juga, karna saya sebegitu emosionalnya hingga hampir semua benda yang pernah saya pakai menurut saya punya kisah sendiri.
Uhm…that was about the non-living objects. How about the living things? How about people or even special people (and pets) around me that have already added their own unique colors into my life?
I’ll stand firm for those people (and pets), I’ll stand tall, and I’ll sacrifice everything I have when they need it the most. I guess I’m quite a loyal person. I hope I am.
"How could you not forming a strong-bonding with such a cute creature like this? <3"
Oiya, soal pets, saya dulu punya kucing peliharaan yang saya miliki sejak saya masih kelas 5 SD sampai awal2 jaman kuliah S1 dulu. Jadi…si kucing tersayang ini ceritanya umurnya panjang dan meninggalnya pun karena udah tua :’(
Saya inget betapa sedihnya saya waktu kucing saya meninggal, selama 3 hari berturut2 mata saya sembab tiap bangun pagi. Kalo liat tempat dia biasa nongkrong di rumah, air mata saya ga tahan tumpah dengan deras. Saya kubur almarhum kucing saya itu di halaman depan rumah dengan upacara pemakaman yang khidmat. Saya, adik2 saya, dan orangtua saya kumpul buat ngedoain si kucing yang jasadnya udah masuk ke liang lahat. Saya doain tiap sholat, berdoa supaya nanti di surga (semoga saya pantas masuk surgaNya) saya bisa ketemu kucing kesayangan saya lagi. Tapi semua itu ga menghapus kesedihan saya juga sampe di hari keempat Ibu saya yang udah ga tahan liat anaknya mewek abis2an karena kehilangan kucing bilang ‘kamu baru keilangan kucing aja udah begitu, gimana kalo keilangan yang lain seperti anggota keluarga’. Saat itu juga saya tersadar dan seperti ditampar ‘Oiya ya, saya ga boleh begini terus’. Jadi mulailah saya tahan air mata yang mau tumpah itu, mulailah saya mengumpulkan kekuatan buat bangkit, dan mulailah saya belajar untuk ga menciptakan emotional attachment yang begitu dalam sama semua hal, karena kan semua hal itu milikNya dan Dia berhak mengambilnya kembali kapan pun waktunya tiba.
Errr…panjang juga ya ocehan saya… Sebenernya saya cuma mau bilang ke kamu… Iya kamu yang berusaha masuk ke kehidupan saya, siapapun juga itu…
Stay tough, please… I may not be a nice person the whole time, I might be reckless and seems like ignoring your feelings, I might act egocentric, I would argue with you and defend my opinions whenever I need it, I would be so ‘kepo’ a.k.a showing excessive curiosity over your life… (now I really sounds annoying, don’t I? :P ), and I might drop you down accidentally like what I’ve done with my purple BB…
But once you made it, once you succeeded entering my life, and be part of my story… I will always be there for you… I will always try to give you all my best… Because those who survived and made it are truly special J After all, only special people can handle me and my annoying traits :P Hahahaha… Noooo…I’m kidding, I’m not that annoying… I’m mostly sweet…just ask the survivors :P :P :P

No comments:
Post a Comment